Serba-serbi Gay



Sebagai orang yang memiliki SSA (apalagi yang pernah merasakan nimatnya melakukan hubungan seksual dengan sesama jenis), pastilah kita pernah merasakan konflik antara dorongan dan kenikmatan homoseksual kita dengan nilai2 yang mengutuk perilaku dan perasaan tersebut. Konflik itu berupa rasa bersalah atau berdosa, yang menimbulkan depresi dan kebingungan, sehingga berkuranglah kenikmatan kita dalam melakukan hubungan homoseksual. Kita mungkin juga pernah berusaha mencari pembenaran atas perasaan dan perilaku kita, dengan harapan bisa meredakan konflik tersebut.
Salah satu jalan yang ditempuh guna melakukan pembenaran itu adalah dengan mentafsir ulang nilai homoseksual di mata budaya, masyarakat, dan agama. Seperti yang sudah kita ketahui, agama (yang lahir di Timur Tengah) merupakan ‘musuh alami’ dari perilaku homoseksual. Dalil2 yang mengutuk perilaku homoseksual berlimpah-ruah, sehingga umatnya yang kebetulan memiliki SSA dan mewujudkan dorongannya ke dunia nyata dalam bentuk perilaku homoseksual dijamin akan mengalami pertentangan batin dalam bentuk rasa berdosa, kepada Tuhan dan malu jika diketahui oleh masyarakat yang menganut keyakinan yang sama. Dengan mentafsir ulang dalil2 tersebut menjadi lebih friendly, pentafsir dan pengikut tafsiran tersebut diharapkan bisa menjalankan perilaku homoseksualnya dengan nikmat dan tanpa rasa berdosa.
Salah satu contoh pemelintiran dalil agama bisa dibaca pada situs http://www.freewebs.com/salamogay , dimana penulisnya bersusah-payah meniti keyakinan homoseksual itu tidak berdosa, dengan berakrobat melompati dalil2 yang jelas2 menyatakan demikian. (Itu jika dianalogikan dengan pemain akrobat. Bisa juga kita analogikan dengan pesulap yang mengubah benda2 dengan trik2nya, atau pembuat martabak yang membolak-balikkan martabaknya di penggorengannya.) Berikut ini adalah trik2nya:
  1. Menimbulkan anggapan seolah-olah para ahli kedokteran dan kejiwaan bersepakat bahwa homoseksualitas bukan penyakit, tidak diketahui penyebabnya, dan tidak bisa ‘disembuhkan.’ Menurutnya, orang awamlah (baca: heteroseksual) yang bertanggung jawab menilai mereka sebagai ‘sakit.’
  2. Di satu sisi berusaha memisahkan antara aturan eksak dan non-eksak, di sisi lain berusaha mencampuradukkan eksak dan agama dengan menimbulkan anggapan seolah-olah ahli kejiwaan berpendapat bahwa menjadi gay adalah karena takdir.
  3. Menyangkal kemampuan dan kenyataan sebagian homoseks untuk menikah, dengan menimbulkan anggapan seolah-olah fakta itu bohong tanpa kecuali.
  4. Menyamakan kompleksitas homoseksual dengan atribut sederhana seperti misalnya warna kulit, atau dengan refleks2 seperti bernafas.
  5. Melakukan kesalahan fatal dalam mengangkat dalil perzinahan, dalam hal jumlah saksi, kriteria perilaku zinah, status anak hasil perzinahan, kewajiban pezinah, dan kemahapengampunan Allah swt.
  6. Menimbulkan anggapan bahwa pria homoseksual yang menikah pasti akan berselingkuh, dan tidak mungkin mencintai anak kandungnya dengan setulus hati.
  7. Menggunakan gaya debat “daripada”, sehingga seolah-olah apa yang dibelanya adalah hal yang baik. Biasanya, para remaja membandingkan masturbasi dengan hubungan seks pranikah untuk menonjolkan betapa ringannya dosa masturbasi dan karenanya dianggap baik, padahal sebetulnya cuma lebih baik, dan itu tidak sama dengan baik. Dalam hal ini, ia membandingkan perilaku homoseksual dengan bunuh diri. Ia berharap bisa memeras Tuhan menggunakan logika keterpaksaan.
  8. Mencampuradukkan unsur-unsur homoseksualitas, sehingga pembaca yang tidak jeli gampang terjebak dalam logikanya. Dalam homoseksualitas, ada unsur arah ketertarikan, dorongan seksual, perilaku seksual, dan sikap terhadap seksualitasnya. Boleh jadi seseorang dilahirkan dengan bakat arah dorongan seksual ke sesama jenis, namun ia punya andil untuk menentukan takdirnya apakah akan mendapat murka atau ridha-Nya dengan cara berperilaku atau tidak berperilaku sebagaimana yang disukai-Nya. Namun si penulis menggunakan istilah gay, seolah-olah orang yang memiliki arah ketertarikan ke sesama jenis pasti akan mewujudkan dorongannya menjadi perilaku homoseksual, dan ridha (tidak menyesali) perilakunya. Ia mereduksi identitas seksual berdasarkan orientasi seksualnya saja.
  9. Bukti utama yang menunjukkan bahwa ia mengagungkan pikirannya dan meremehkan agama adalah pemenangan buah pikirannya atas dalil2 agama yang telah ditafsirkan oleh para cendekiawan dan ulama Islam, tanpa melalui proses pengkajian, misalnya peer review.
  10. Tidak menangkap inti dari ayat2 Quran yang berkisah mengenai umat Luth as. Inti kecaman Allah swt dan Luth as terhadap umat Luth as adalah agar umat Luth as itu mengubah perilaku homoseksualnya menjadi heteroseksual dan menata hatinya (bertakwa), bukan agar mereka menyukai lawan jenis Tujuannya adalah proses atau usaha, bukan untuk hasilnya karena Allah swt yang menentukan hasilnya. Bahkan seandainya nyata2 ayat Quran menceritakan umat Luth as akhirnya bertobat dan hidup secara heteroseksual, ia tetap gigih mengingkarinya.
  11. Menggunakan elemen-elemen nasrani untuk menata dalil2 islami, misalnya salib, sifat manusiawi tuhan (kecewa, terpaksa, merespon dengan buruk, meminta), dan peran malaikat sebagai korban pelecehan umat Luth as. Dalam hal salib, Islam sangat tegas melarang umatnnya dari menggunakan simbol-2 agama lain. Pensifatan tuhan seperti itu justru melemahkan ke-Maha-an Allah swt. Sedangkan peran malaikat, justru ayat2 al Quran menjelaskan bahwa azab itu dipersiapkan sebelum malaikat itu sampai ke kota terkutuk itu. Jadi, Allah swt tidak mengumpankan malaikat2 itu supaya punya alasan untuk membalikkan kota itu.
Konklusi:
Bisa ditarik gambaran kepribadian si penulis, ia adalah seorang homoseksual yang gagal mengalahkan nafsunya. Ia beranggapan bahwa hidupnya akan jauh lebih ringan apabila ia menjatuhkan diri dan menyerah kepada nafsunya, bukannya tunduk kepada nilai-nilai agama. Agar agama tidak lagi mengganggu aktivitasnya bersenang-senang dengan aktivitas homoseksualnya, maka ia berusaha untuk memelintir dalil2 tersebut agar sesuai dengan keinginannya dan tunduk kepada nafsunya.
Ia pernah mengalami penderitaan akibat tekanan dari orang-orang di sekitarnya (yang heteroseks) berupa kecaman, tudingan, dan desakan untuk menikah. Sayangnya, orang-orang heteroseks di sekitarnya tidak siap untuk membimbing dengan empatis, bahkan tidak pula mampu memberi contoh yang baik, misalnya masih suka berzina. Akibatnya, timbullah karakter ‘heterophobia.’
Tiadanya contoh yang baik dan bimbingan yang empatis inilah yang membuatnya semakin ragu dengan kebenaran hakiki yang diwakili oleh agama. Agama di matanya menurun nilai dari wahyu Tuhan menjadi produk heteroseksis. Meski demikian, karena ia ingin agar meraih banyak dukungan di tengah masyarakat yang masih memegang nilai agama, maka ia berusaha untuk memperhalus penyampaiannya dan secara politis menimbulkan anggapan bahwa yang salah adalah tafsirannya, bukan wahyu-Nya. Karena yang menafsirkan adalah orang-orang awam yang heteroseks, maka tafsirannya pun memihak heteroseks dan meminggirkan homoseks.
Karena itu pulalah, ia berusaha untuk meniadakan tekanan yang dialaminya untuk menikah, dengan cara mengatasnamakan fiqih, seolah-olah fiqih Islam melarang pernikahan yang dilakukan oleh seorang homoseks. Padahal, ini hanyalah hasil buah pikirnya, yang tidak otomatis diterima menjadi fiqih Islam. Justru dalam Al-Quran ditemukan dalil yang mewajibkan orang-orang yang memiliki SSA untuk menikah, yaitu Huud 78-79:
  1. Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata: "Hai kaumku, inilah puteri-puteriku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?"
  2. Mereka menjawab: "Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap puteri-puterimu; dan sesungguhnya kami tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki."
Lebih jauh lagi, ia berusaha mendapatkan pembenaran untuk mengharamkan pernikahan orang ber-SSA secara mutlak, dengan menetapkan standar ganda bahwa kalau ada orang dengan SSA berkadar kecil, maka haram untuk menikah. Lalu, bagaimanakah dengan orang homoseks yang memiliki kadar heteroseksual 1%, tidakkah ia juga jadi haram berhubungan homoseksual?
Pada dasarnya, ia bukanlah seseorang yang tertarik pada upaya mencari dan menemukan kebenaran yang sejati; Ia hanya ingin agar bisa bersenang-senang dengan perilaku homoseksualnya. Oleh karena itu, ia tidak segan-segan untuk berpindah-pindah pihak dan pendirian, asalkan tujuannya tercapai. Buktinya, ada ketidakkonsistenan dalam uraiannya. Mula2 ia mati2an berusaha menegaskan bahwa para ahli berpendapat kalau homoseksualitas bukanlah penyakit. Namun kemudian ia berusaha mendapatkan keringanan bagi homoseksual, dengan cara menganalogikannya dengan penyakit. Ketidakkonsistenan yang sama juga ditemukan pada pernyataannya bahwa bayi2 lahir tanpa dipaksa, namun selanjutnya ia bertanya, mengapa memaksa bayi-2 itu lahir.
Pandangannya tentang homoseksualitas sebagai bencana tidak sesuai dengan fakta yang banyak ditemui. Orang-orang yang memiliki SSA dalam dirinya tidak meratapi hilangnya kemungkinan untuk menikah dan memiliki anak. Mereka hanya bertanya-tanya, apakah jika aku menikah kelak, aku bisa berhubungan seksual dengan istriku? Kenapa aku dapat cobaan seperti ini? Boro2 mau berpikir soal punya anak, apalagi pahala pernikahan.
Dalam upayanya memelintir dalil2 agama, akhirnya ia menemui jalan buntu berupa ketidakkonsistenan. Namun demikian, jalan buntu ini semestinya bisa dihindari andaikata ia mau mengakui bahwa yang ia coba benturkan sebenarnya bukanlah 2 dalil agama, melainkan dalil agama dengan angan2nya sendiri!
Seandainya mampu, ia pasti akan mencoba memeras Tuhan. Buktinya, ia menggunakan logika “terpaksa” untuk membolehkan perilaku homoseksual. Ia mencoba berdalih di hadapan Tuhan, “Karena Engaku tidak mengijinkan aku bunuh diri, maka bolehkan aku berperilaku begini. Biarkan aku bersenang-senang. Jika tidak, ijinkan aku bunuh diri!”
Kesalahan2 yang dilakukan oleh penulis meyakinkan kita bahwa sebenarnya ia sama sekali bukan muslim! Ia adalah nonmuslim yang mengambil sumber2 dalil2 Islami, dan meramunya dalam logika yang dikendalikan oleh nafsunya. Ini dibuktikan dengan menata logika berdasar dalil2 islami dalam lambang agama nasrani (salib), kesalahan dalam menjelaskan seluk-beluk hudud bagi zinah, peran malaikat sebagai calon korban pelecehan oleh kaum Luth as, dan pensifatan Tuhan yang terlalu manusiawi (Tuhan terpaksa, tuhan kecewa, tuhan meminta, tuhan merespon dengan buruk). Pensifatan ini lebih lazim dalam Bibel dan ajaran nasrani, namun tanpa bukti yang nyata tentunya kita tidak boleh sembarangan menuduh.


Pendek kata:
  • Bisa jadi ia muslim, bisa juga nonmuslim. Apapun itu, ia termasuk yang berpandangan liberal. Namun kemungkinan lainnya, ia adalah orang yang tidak beragama; Agama digunakannya sebagai alat saja.
  • Tidak mengikuti perkembangan ilmu yang terbaru atau sengaja melewatkannya karena tidak ingin ‘sembuh’ dan dituntut untuk ‘sembuh.’ Ia bahkan tidak mengetahui bagaimana proses penentuan abnormalitas suatu fenomena oleh para ahli edis dan kejiwaan.
  • Sehubungan dengan homoseksualitasnya, ia mendapatkan pengalaman yang tidak menyenangkan dari orang-orang heteroseks di sekitarnya, sehingga tumbuh jadi seorang ‘heterophobia,’ serta overestimate terhadap kebaikan gay.
  • Banyak pengalaman di komunitas gay, sehingga menarik kesimpulan bahwa para gay pasti berselingkuh dari istrinya. Namun ia tidak memiliki pengalaman di komunitas non-gay yang masih berkonflik batin atau sudah menikah.
  • Oportunis, machiavellian. Ia tidak segan-segan untuk berkhianat, berpindah pihak, dan menjungkirbalikkan norma agar seleranya seolah-olah sah.
  • Tidak toleran terhadap orang lain yang senasib, tapi tidak seperjuangan. Yaitu orang-orang yang merasakan ketertarikan homoseksual tapi berusaha mengekangnya dan melampiaskan dorongan itu dalam ikatan pernikahan yang sah.
Sebagai penutup bisa dikatakan bahwa upaya untuk merombak tatanan yang anti-homoseksual bukanlah hal yang baru, Satu per satu batu penghalang sudah berhasil dijungkirkan. Kini, giliran agama yang dicoba dijungkirbalikkan. Hanya para gay yang cukup putus asa terhadap rahmat Allah sajalah saja yang bersegera mengikutinya, demi memuaskan nafsunya. Persis seperti kaum Luth as yang bersegera untuk menyambut kehadiran tamu-tamu Luth as. Dan mereka, sebagaimana yang telah digambarkan dalam Al Quran, benar2 terombang-ambing dalam kesesatan.

Mohon Maaf Kami



Beberapa bulan terakhir sejak bulan Desember 2006 kami tidak melakukan posting artikel atau taushiyah di blog Badan Penyelamat Cinta ini. Hal itu disebabkan karena akses internet terlalu lambat untuk mengakses situs blogspot. 


Untuk itu kami mohon maaf atas ke-vakuman kami selama 3 bulan terakhir. Semoga ke depan tidak ada yang dapat memisahkan kita untuk terus berjuang dan saling menguatkan dalam memperbaiki diri melalui situs blog ini.


Kami berharap rekan-rekan dapat tetap terus berjuang apapun yang terjadi. Mari kita galang kekuatan bersama untuk menghadapi serbuan opini miring tentang cinta dan penyimpangan seksual agar tetap dalam koridor Islami dan diridhoi Allah SWT.

Semoga Allah memudahkan langkah kita. Bismillah kita bisa !


Admin Badan Penyelamat Cinta
Vote For Love, Just For Allah

Undangan Pernikahan



Assalamu'alaikum wr wb

Mohon doa restu, insya Allah akan menikah Dian Anggrek & Andree S. pada :

Hari : Sabtu, 6 Januari 2007
Resepsi : Pukul 11:00-15:00 WIB
Tempat : Masjid AlHidayah Jl. Selayar Perum 3 Bekasi Timur

Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan rahmah. Amin.

Wassalam

Nb: Diharap kader dan simpatisan Badan Penyelamat Cinta hadir dalam acara tersebut.

Puisi Jika Aku Jatuh Cinta



Ya Allah, jika aku jatuh cinta, cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu, agar bertambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.

Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta, jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu

Ya Allah, jika aku jatuh hati, izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu, agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu.


Ya Rabbana, jika aku jatuh hati, jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu.

Ya Rabbul Izzati, jika aku rindu, rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu.


Ya Allah, jika aku rindu, jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku merindukan syurga-Mu.

Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu, janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhirMu.


Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu, jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru manusia kepada-Mu.

Ya Allah, jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu, jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu.



By Ukhti Zahra Fakhrunnisa

Antara Aa Gym dan Skandal Seks Anggota DPR



Akhir-akhir ini perbincangan dimana-mana menyangkut dua tema antara Poligami Aa Gym dan skandal seks anggota DPR. Dari sopir angkot, mahasiswa, ibu-ibu rumah tangga, aktivis LSM, sampai para politisi membicarakan tema tadi. Sangat menarik memang.


Aa Gym adalah sosok yang selama ini dikenal bersih, netral dan menyejukkan. Menikah lagi memang tidak dilarang di dalam Islam selama bisa bersikap adil. Dalam hukum positif negara kita juga poligami tidak dilarang selama ada keridho-an dari istri pertama atau istri pertama tidak bisa mempunyai keturunan. Dilihat dari nilai-nilai di atas maka Aa Gym tidak melaksanakan kesalahan karena Teh Ninih -istri Beliau- ridho Beliau menikah lagi. Ketika kita melihat mereka di layar tv, ternyata mereka terlihat akur dan tambah mesra saja. Maka dari itu marilah kita dukung Aa Gym dan mendoakan keluarga Beliau agar menjadi keluarga yang sakinah mawadah dan rahmah.


Selanjutnya mari kita cermati skandal seks anggota DPR dengan seorang penyanyi dangdut. Meskipun mereka melakukannya dengan suka sama suka sehingga tidak bisa dijerat hukum namun tindakan mereka sungguh sangat memalukan. Di tengah carut marutnya kebobrokan moral masyarakat, mereka menambah aib dengan perilaku yang sangat tidak mencerminkan sebagai salah satu wakil rakyat di DPR. Tentunya kita sangat prihatin dengan kondisi seperti ini. Kami pun berharap, semoga kasus-kasus seperti ini tidak terjadi lagi di negeri kita tercinta. Bukan hanya video skandal nya saja yang tidak tampak ke permukaan, tetapi juga perilaku seks bebas bisa hilang dari masyarakat.


Kita berdoa saja kepada Allah...semoga pornografi dan pornoaksi enyah dari bumi pertiwi.

Tetap semangat ! Jangan pernah putus asa !

Hari AIDS Sedunia, No Free Sex, Back to Allah



Hari ini, tanggal 1 Desember diperingati oleh masyarakat di seluruh dunia sebagai hari AIDS Internasional. Sebagai seorang muslim, kita tentu memahami apa yang kita kerjakan pasti akan dimintai pertanggung jawaban kelak. Apapun yang kita lakukan juga ada yang memperhatikan meskipun kita tidak mengetahuinya. 


Kita boleh saja mengeluarkan opini yang beraneka rupa, berdasarkan ideoloi yang kita anut masing-masing. Namun sebagai muslim tentunya kita mengeluarkan opini berdasarkan apa yang sudah Rasulullah wariskan kepada kita, yaitu AlQur'an dan Sunnah.


Saudaraku yang dirahmati Allah...penyakit AIDS sampai sekarang belum ada obatnya meskipun bisa dicegah. Namun sebagai seorang muslim yang baik sudah barang tentu kita mencegahnya dengan apa yang Allah dan Rasulullah tuntunkan kepada kita. Apakah itu ? Jangan dekati zina !


Walaupun penyebab kasus HIV-AIDS tidak melulu karena hubungan sex bebas, namun sebagian besar penyebabnya memang dikarenakan oleh hal tersebut. Maka dari itu kita jangan sampai mendekati zina, apalagi melakukannya.


AIDS adalah sosok penyakit yang menakutkan. Orang yang terkena AIDS akan mengalami kelemahan sistem kekebalan tubuh sehingga akan cepat meninggal dunia meskipun masa inkubasi AIDS berlangsung sangat lama, sekitar 5-10 tahun.


Di hari AIDS internasional ini, mari kita tekadkan dalam diri untuk menjauhi segala macam praktek mendekati perzinahan. Apabila kita tidak kuat untuk menahan nafsu, maka berpuasalah...apabila masih ada peluang untuk melakukan zina, maka segeralah menikah...kemudian, cukupkan diri kita hanya kepada suami atau istri kita saja...jangan cari yang lainnya karena segala hal yang berlebihan dibenci oleh Allah.


Semoga Allah memudahkan segala langkah kita. Hari AIDS sedunia...No Free Sex, Back to Allah !

Belajar Mencintai Wanita Seutuhnya



Ujian itu mungkin akan terus datang menghampiri kita. Inilah salah satu bukti sayang Allah kepada para hambaNya. Semoga kita bisa memaknainya dengan pikiran yang positif, tanpa berburuk sangka kepada kehendakNya.


Matahari pagi bersinar terang...aku terbangun dari tidurku yang lelap sehabis sholat subuh tadi. Astaughfirullah...lagi-lagi ku sia-siakan waktu ba'da subuh untuk tidur. Kebiasaan buruk yang belum bisa kuhilangkan. Alangkah indahnya bila setelah menunaikan sholat subuh kita lalui dengan berzikir ataupun belajar. Namun hal itu masih sulit kulaksanakan. Sholat subuhnya saja masih sering ketelat. :) Ya Allah...kuatkan hamba untuk selalu berusaha memperbaiki diri, meskipun kemampuan hamba baru segini. Begitulah doa yang selalu kupanjatkan agar aku tidak bosan untuk selalu memperbaiki diri.


Aktivitas pagi segera kutunaikan. Mandi, bersih-bersih kamar dan tak lupa sarapan agar badanku kuat dan sehat. Sebagai pemuda, saya harus bisa melakukan hal yang lebih baik dengan frekuensi yang banyak. Mumpung belum tua, akan kupersembahkan hidup ini untuk ibadah. Bismillah aku bisa !


Setelah sholat sunnah dhuha aku memulai aktivitasku. Bekerja di bilangan Pancoran, Jakarta Selatan. Masya Allah...jalanan macet lagi. Aku tahan diriku untuk tidak menggerutu. Kubaca komik Sinchan yang lucu agar bisa menghiburku. Aku pun kembali teringat...seandainya aku isi waktu luangku ini dengan membaca Al Qur'an...betapa indahnya hidupku. Namun sampai saat ini aku belum bisa membacanya. Otomatis aku pun membaca komik itu.


Suasana bis yang lumayan ramai penumpang membuat kepalaku sedikit ngilu. Kucoba menghibur diri dengan melihat pemandangan lewat jendela bis. Di sebuah halte bus kulihat seorang wanita berjilbab rapi dengan paras yang cantik berseri. Subhanallah...Maha Besar ciptaanMu Ya Allah... aku pun kembali menunduk malu. Semoga Allah tetap menjaga hatiku.

Dalam kesibukan aktivitas di tempat kerjaku, bayang-bayang wajah wanita itu masih sesekali terngiang di otakku. Bisakah aku mencintainya seutuhnya Ya Allah ? Hatiku bersuara pelan. Insya Allah pasti bisa ! Jawab bilik hatiku yang lain.


Ya, walaupun mungkin akan sulit mencintai wanita seutuhnya...namun aku akan terus berusaha dan berusaha agar Allah mencintaiku. Aku hanya ingin mendapatkan keridhoan dari Nya. Semoga Allah memudahkannya. Amin.


Hari-hari berikutnya kulalui dengan sholat sunnah istikharah. Kumohon petunjuk dariNya, kutanyakan padaNya...apakah aku siap menikah. Akhirnya aku pun bertekad bulat, memantapkan hati, untuk segera menyempurnakan sebagian agama ini.

Ya Allah...mudahkan aku untuk mencintai wanita seutuhnya...Amin.

Kampanye Gay di Jawa Pos



Menanggapi cover story di Jawa Pos Minggu (29/10), penulis tergelitik untuk mengulas peran media dalam gerakan kelompok gay (dan lesbian) untuk meraih penerimaan masyarakat. Seperti yang telah diulas di koran tersebut pada tanggal dimaksud, masyarakat secara berangsur mengembangkan toleransi, kemudian penerimaan, bahkan akhirnya dukungan terhadap kaum gay. Tengok saja film Arisan! besutan Nia Dinata yang memperkenalkan sosok gay yang maskulin, sehingga stereotype gay sebagai pria gemulai yang dipegang masyarakat selama lebih dari dua dekade mulai ditinggalkan.

Banyak yang mengira keberhasilan gerakan gay di ujung abad 20 terutama karena sumbangsih para ilmuwan seperti Simon LeVay dan Dean Hamer. Namun demikian, sesungguhnya media berperan lebih dominan dalam kampanye ini. Seperti yang banyak diketahui, LeVay dikenal atas temuannya mengenai perbedaan ukuran hipotalamus pria heteroseksual dan homoseksual, sedangkan Hamer dikenal karena menemukan landasan genetis homoseksualitas. “Fakta-fakta ilmiah” ini diterjemahkan oleh media sebagai bukti nyata bahwa gay diciptakan sejak lahir.

Yang jarang diungkap oleh media adalah keterbatasan-keterbatasan pada penelitian LeVay, yang tidak memungkinkannya untuk membuat klaim tersebut. Keterbatasan pada penelitian LeVay antara lain, orientasi seksual subjek penelitian sulit untuk dipastikan, mengingat penelitian itu dilakukan atas subjek yang telah meninggal. Selain itu, penyalahgunaan NAPZA, AIDS, dan riwayat penyakit lainnya juga dapat mengubah struktur otak yang diteliti. 


Keterbatasan lain muncul dari sifat otak yang berkembang dan menyusut sejalan dengan peristiwa yang dialami atau perilaku yang dilakukan oleh si pemilik otak tersebut. Masyarakat awam biasanya menganalogikan sisi psikologis dan biologis dari otak manusia sebagai software dan hardware sebuah komputer. Pada kenyataannya, hardware otak juga berfungsi seperti software. Melalui proses belajar, pengalaman, latihan, trauma, dll, struktur otak berubah: Jalur-jalur syaraf menebal, menipis, menyambung, terputus, bertambah, dan berkurang dalam kadar yang dapat diukur. Dengan kata lain, dalam kasus “otak gay” ini, boleh jadi struktur otak ini adalah akibat dari perilaku homoseksualnya semasa hidup, bukan penyebab.

Menanggapi “fakta-fakta ilmiah” yang diklaim media sebagai simpulan hasil penelitiannya, LeVay menandaskan: "It's important to stress what I didn't find. I did not prove that homosexuality is genetic, or find a genetic cause for being gay. I didn't show that gay men are born that way, the most common mistake people make in interpreting my work. Nor did I locate a gay center in the brain." [1].

Sejalan dengan LeVay, Hamer menyatakan: "There is not a single master gene that makes people gay ... I don't think we will ever be able to predict who will be gay." [2]. Pada kesempatan lain, ia kembali menegaskan: "From twin studies, we already know that half or more of the variability in sexual orientation is not inherited. Our studies try to pinpoint the genetic factors...not negate the psychosocial factors." [3] Perlu digarisbawahi, studi lainnya yang serupa justru tidak menemukan bukti diwariskannya kecenderungan homoseksual dari ibu ke anak laki-lakinya, sebagaimana yang sering disimpulkan media dari penelitian Hamer. Dengan kata lain, para ilmuwan yang bersangkutan sebenarnya tidak menyatakan bahwa seseorang dipaksa oleh blueprint genetik atau struktur otaknya untuk menjadi gay.

Diakui atau tidak, “fakta-fakta ilmiah” di media telah menjadi argumen bagi kelompok gay untuk meyakinkan masyarakat bahwa secara biologis mereka telah ditakdirkan demikian, bukan dibentuk oleh lingkungan atau ditulari oleh gay, dan tidak bisa diubah melalui terapi psikologis. Ini dikuatkan dengan pengakuan sebagian gay yang menyatakan, sudah merasakan “sesuatu yang berbeda” yang lazim dianggap sebagai gejala prehomoseksual sejak anak-anak, sehingga pengalaman seksualnya dengan sesama jenis hanya dianggap sebagai pencetus homoseksualitasnya yang tadinya terpendam. Konsekuensi pandangan ini, jika ada seorang laki-laki straight yang diberi rangsangan homoseksual, kemudian ia bisa menikmatinya, maka secara gegabah disimpulkan bahwa selama ini sebenarnya ia adalah seorang homoseks atau biseks. Norma sosial yang terinternalisasi dianggap sebagai penghalang baginya untuk menyadari keberadaan dorongan tersebut.

Pandangan tersebut mengabaikan dua hal: Tubuh manusia dirancang untuk menanggapi rangsangan seksual yang diterimanya, dan manusia cenderung mengulangi pengalaman yang menyenangkan. Ketertarikan seksual terhadap sesama jenis memang tidak ditularkan, namun bahkan mahasiswa psikologi tahun pertama pun tentu sudah mafhum bahwa melalui proses pengkondisian, seseorang bisa dilatih untuk menikmati rangsangan seksual dari siapapun atau apapun.

Apakah selalu semudah itu? Tentu saja tidak. Kerentanan seseorang terhadap pengkondisian ini berbeda-beda, dan peluangnya untuk mengatasi hasil proses ini tetap terbuka. Psikolog Jeffrey Satinover menekankan hal ini dengan pernyataan "Like all complex behavioral and mental states, homosexuality is...neither exclusively biological nor exclusively psychological, but results from an as-yet-difficult-to-quantitate mixture of genetic factors, intrauterine influences...postnatal environment (such as parent, sibling and cultural behavior), and a complex series of repeatedly reinforced choices occurring at critical phases of development." [4]
Namun seringkali informasi-informasi di atas mengalami pembelokan, baik disengaja maupun tidak. Ini disebabkan karena fakta imiah kurang menarik minat atau terlalu rumit untuk dipahami oleh konsumen media. Judul “Gen gay telah ditemukan!” tentu lebih menarik dan mudah dipahami daripada “Terdapat perbedaan ukuran yang signifikan pada INAH3 subjek pria yang diduga homoseksual… dst,” meskipun maknanya sudah melenceng. Selain itu, keterbatasan pemahaman wartawan dalam bidang ini juga memberikan kontribusi yang cukup besar dalam pembelokan ini.


Bagi masyarakat pada umumnya dan gay pada khususnya, pengaruh “fakta-fakta ilmiah” mengenai homoseksualitas dari media amat bermakna, terutama terhadap norma-norma sosial dan agama yang mengharamkannya. Karena Tuhan berperan utama dalam penyusunan DNA dan struktur otak manusia, maka penikmat media yang awam cenderung menyimpulkan bahwa Tuhanlah yang mentakdirkan sebagian manusia menjadi gay, sehingga tidak logis jika Tuhan menghukum manusia atas kondisi yang diciptakan-Nya. Jika yang bersangkutan gagal menemukan solusi dari konflik ini, maka ia cenderung mengalami rasa berdosa dan depresi, atau penurunan keyakinan atas ajaran agama dan norma sosial. Pachankis & Goldfried menyatakan, para gay cenderung untuk menjadi penganut yang relatif kurang taat, mereinterpretasi pemahaman agamanya sehingga homoseksualitasnya menjadi “anugerah Tuhan”, berpindah afiliasi ke agama yang lebih toleran, lebih mendalami aliran spiritual daripada agama formal, atau menjadi atheis [5].

Kembali ke peran media. Penulis berpendapat, para insan media tentu sudah amat paham bahwa satu fenomena bisa ditinjau dari beberapa sudut pandang. Dalam isu homoseksualitas, sudut pandang yang berbeda bisa dicapai jika media lebih kritis terhadap informasi-informasi yang taken for granted sebagai fakta ilmiah. Menggali figur-figur yang terlibat langsung dalam fenomena tersebut adalah nilai tambah bagi kedalaman ulasan, namun mengangkat figur-figur tersebut dari satu link saja atau beberapa sumber yang bervisi sama hanya akan menghasilkan ulasan satu sisi saja. Ini bisa ditempuh, misalnya dengan mewawancarai subjek yang bukan merupakan bagian organisasi atau komunitas gay, atau orang-orang yang mengaku telah “bertobat” atau “sembuh” dari kehidupan gay-nya sebagai imbangan. Dengan demikian, media massa tidak terkesan menggiring konsumennya ke satu pandangan dengan menyuapkan satu sisi cerita saja, namun membuka ruang untuk munculnya wacana yang berbeda, dengan menawarkan berbagai sisi tinjauan. Diharapkan masyarakat bisa lebih berdaya dalam memilih sikapnya atas fenomena homoseksualitas ini.

[1] David Simmons, "Sex and the Brain," Discover, March 1, 1994
Dikutip dari
http://www.narth.com/docs/correctionletter3.html
[2] Drs. A. Dean Byrd, Shirley E. Cox, Jeffrey W. Robinson, "The Innate-Immutable Argument Finds No Basis In Science: In Their Own Words: Gay Activists Speak About Science, Morality, Philosophy," NARTH web site
[3] "New Evidence of a 'Gay Gene'," by Anastasia Toufexis, Time, November 13, 1995, vol. 146, Issue 20, p. 95
[4] J. Satinover, M.D., Homosexuality and the Politics of Truth (1996). Grand Rapids, MI: Baker Books
Dikutip dari
http://www.narth.com/docs/bornway.html
[5] Pachankis & Goldfried, dalam “Clinical Issues In Working With Lesbian, Gay, And Bisexual Clients,” Psychotherapy: Theory, Research, Practice, Training, September, 2004, Vol. 41, No. 3, pgs. 227-246
Dikutip dari
http://www.narth.com/docs/nystate.html
 

Tulisan : Paraclytos

Keberatan dengan kampanye homoseksualitas di Jawa Pos


Pada hari senin tanggal 30 Oktober 2006, ada beberapa tulisan di harian JawaPos tentang kampanye homoseksualitas sebagai bentuk kelaziman yang ada di tengah-tengah masyarakat. Sebut saja, tulisan "Anggap homoseksualitas sebagai suatu keberagaman", "Tidak bersalah, bukan masalah", "Kekuatan feeling", dan "Lesbian yang berjilbab, menikah dan mengandung".

Memang homoseksualitas banyak terdapat di masyarakat kita, baik itu gay, biseksual maupun lesbian. Dan kita pun tidak bisa menafikan adanya hal tersebut.

Akhir-akhir ini gejala maraknya sekularisme juga sangat mempengaruhi berkembangnya opini tentang lazimnya "jenis kelamin baru" tersebut. Bahkan ada pula beberapa negara barat yang membolehkan pernikahan sesama jenis pada masyarakatnya.

Sebagai bangsa timur yang relijius, sudah barang tentu kehidupan kita bersandar pada nilai-nilai moral dan agama yang ada di negara kita. Bukan dengan meniru gaya hidup sekularisme yang berkembang di negara-negara barat.


Kecenderungan sesama jenis merupakan ujian yang diberikan oleh Tuhan kepada sebagian makhlukNya. Begitu juga dengan kecenderungan terhadap lawan jenis. Semua merupakan ujian yang diberikan oleh Tuhan. Apabila kecenderungan terhadap lawan jenis kita lampiaskan dengan perzinahan tentunya kita juga akan mendapatkan dosa.

Sebagai makhlukNya yang beriman, sudah selayaknya kita mencontoh apa yang telah diajarkan oleh agama kita dalam mengatur kecenderungan nafsu tersebut. Misalnya dalam agama Islam, Rasulullah Muhammad SAW menikah dengan wanita. Seorang muslim sudah seharusnya mengikuti apa yang nabi Muhammad SAW tuntunkan. Bukan dengan jalan perzinahan maupun menikahi sesama jenis karena Rasulullah tidak pernah mencontohkan hal tersebut.

Oleh karenanya, kami sangat keberatan apabila kampanye tersebut diteruskan di koran yang sangat kami cintai, JawaPost. Meskipun menikah dengan lawan jenis merupakan hal yang berat bagi kalangan homoseksual namun inilah ujian bagi kita sebagai kaum homoseks. Tentu karena beratnya ujian ini, Tuhan akan memberikan pahala yang berlipat-lipat dibanding orang yg memiliki kecenderungan terhadap lawan jenis.

Semoga Tuhan menolong kita, memberikan kemudahan bagi kita untuk menjadi orang yang mencintai lawan jenis. Karena orientasi seksual juga bisa berubah sesuai yang kita inginkan. Mau menjadi homo seterusnya ataupun mencintai lawan jenis, semua bisa asal kita ada kemauan untuk merubahnya. Ingatlah pepatah jawa, witing trisno jalaran soko kulino. Mulainya cinta karena seringnya bertemu.

Selamat berjuang. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih. Salam persaudaraan dari kami,

Ramadhan...Gw Banget


Akhirnya bulan yang dirindukan itu telah tiba. Bulan dimana pahala dilipatgandakan, kebajikan dipermudah dan pintu ampunan dibuka lebar-lebar. Subhanallah...

Betapa indahnya bulan Ramadhan ini. Sungguh menyenangkan kita bisa merasakannya. Betapa ruginya bila kita menyia-nyiakan kehadirannya.
Betapa pun beratnya kesalahan kita, betapa pun hinanya dunia kita, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang selama kita mau kembali padaNya.


Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Allah sangat gembira apabila ada hambaNya yang bertaubat melebihi senangnya seseorang yang kehilangan onta di tengah padang pasir yang kering dan luas, lalu dia mencarinya namun tidak berhasil menemukan ontanya. Kemudian saat dia kelelahan mencari dan beristirahat untanya tiba-tiba ada di depannya.
Subhanallah...


Allah Maha Penerima Taubat wahai saudaraku...kembalilah padaNya.
Hidup ini memang ujian. Semuanya ujian. Susah senang, semua ujian. Miskin kaya semua ujian. Straight-G semua ujian...


Rasulullah SAW adalah teladan terbaik bagi kita semua. Oleh sebab itu, ikutilah apa yang Beliau lakukan. Menikahlah dengan lawan jenis. Dan bersabarlah apabila kesulitan mendera.
Bila kita berusaha tulus untuk kembali padaNya...insya Allah semua itu akan dipermudah olehNya. Bukan hanya dipermudah...namun juga akan diberikan rasa kasih dan sayang yang mungkin sebelumnya sulit kita bayangkan bisa melakukannya.


Berjuanglah saudaraku...kuatkan diri...teguhkan iman. Mari kita sambut Ramadhan ini dengan perbaikan-perbaikan. Semoga Allah memudahkan apa yang kita usahakan.

Keep fighting ! Fight for Life...Vote for Love...Just for Allah !

Ramadhan...gw banget...

Hadapi Dengan Senyuman



Hadapi dengan senyuman

Semua yg terjadi biar terjadi
Hadapi dengan tenang jiwa
Semua kan baik2 saja

Bila ketetapan tuhan
sudah ditetapkan tetaplah sudah
Tak ada yg bisa merubah
dan tak kan bisa berubah

Relakan saja ini
Bahwa semua yg terbaik
Terbaik untuk kita semua
Menyerahlah untuk menang

(Lagu " Hadapi dengan Senyuman", Dewa 19)

Hidup itu rumit ya...
Beberapa tahun lalu sampai ada iklan yang menghusung slogan "susah jadi manusia".
Hidup butuh seni yang tinggi, biar gak bosen dan penuh makna.

Sahabat Umar Bin Khathab tidak peduli keadaan susah maupun senang. Karena semuanya merupakan ujian. Kalo senang ya bersyukur, kalo susah ya sabar.

Betapa menakjubkan kehidupan seorang mu'min...dikala dia susah, dia bersabar...disaat
dia sedang senang, dia bersabar...semua itu baik baginya.

Kadang kita merasa bahwa tuhan itu jauh...kok gw ditinggalin terus gitu. Masa tiap hari bawaannya dapet apes mulu? Kok gw gak pernah hidup kaya temen gw, pulang pergi bawa mobil, bisa ngeceng di semua tempat, bisa beli ini itu tanpa kesulitan sedikitpun, dsb.

Hmmm...keinginan kita memang banyak ya.

Orang yg berkecukupan pun bingung...duit gw banyak banget, mo dikemain ini ya ? Gw besok mau ke Paris, tapi gw bingung pake baju yg mana...Gw besok mau umroh ke Mekah, tapi sayang gw gak punya sendal jepit. Nah loh, apa hubungannya ??? :)

Pokoknya semua pasti akan repot dengan permasalahan masing2. Yg kaya ya punya masalah, yg miskin juga punya. Semua bermasalah sesuai kadar kemampuan masing2.

Saat masalah kita terselesaikan oleh diri kita sendiri, rasanya bangga banget ya. Kita akan
merasa bahwa kita dewasa, lega dan siap menghabiskan tantangan kehidupan selanjutnya.

Ada ibu melahirkan dg susah payah meregang nyawa.
Sakitnya tiada tara. Namun setelah anaknya lahir, si ibu pun tersenyum bahagia melihat buah hatinya selamat sentosa.

Masalah memang menakjubkan...bisa bikin orang menangis terisak, tapi juga bisa bikin orang tertawa.

Ketika masalah datang...sebaiknya berpikiran positif saja, bahwa Tuhan sayang sama kita.

So...mulai dari sekarang, saat masalah datang...hadapi saja dengan senyuman...
Katakan pada jiwa...selamat datang cinta...Cinta yg suci dari tuhan yang kita cintai.

Pelacur yg Selalu Terjaga Wudhu-nya


Beberapa hari ini tugas saya banyak sekali. Pagi mengerjakan tugas kuliah, siang tugas proposal kegiatan, malam investigasi ke dunia malam. Kata kebanyakan orang saya terlalu mengerikan. Mau-maunya terjun ke dunia seperti itu.

Ah biasa saja sih, selama kita masih kuat kenapa kita gak mencoba lakukan suatu perubahan. Kita lah yang tau kondisi dimana kita sedang kuat dan dimana kita sedang lemah iman. kalau sedang lemah ya jangan lakukan kerjaan berbahaya seperti ini. Bisa berabe. :)

Dengan bismillah saya mencoba melangkahkan kaki yg lumayan berat karena hampir selalu digunakan untuk mondar mandir ngerjain tugas.

Arah investigasi Tim Penyelamat Cinta kali ini ditujukan di kawasan Gajah Mada. Perbatasan antara Jakarta Barat dan Pusat. Disitu kalau malam terlihat banyak sekali para pelacur disertai
tukang ojek di sampingnya. Gak tau fungsinya untuk apa tukang ojek itu. Kali aja kalo ada trantib biar bisa langsung kabur. Ga tau deh.

Saya mencoba berbincang2 dengan salah satu pelacur di situ. Sebut saja namanya Mbak Ani. Umurnya 25 tahun, dan mengenakan busana yg lebih rapi daripada teman2nya yg lain.

Senyum simpulnya sempet juga membuat saya keder, jangan2 saya nggak kuat nahan diri, hehehe. Namun segala puji bagi Allah, alhamdulillah saya bisa ngobrol dengan nya tanpa terjadi apapun. Tentunya kami tidak berdua2 an di tempat sepi karena di samping mbak Ani ada tukang Ojek yg setia menemaninya.

Suasana relijius tiba-tiba muncul dari pembicaraan kami. berawal dari wawancara mengapa dia jadi seperti ini sampai kebiasaannya sehari2.

Betapa terkejutnya saya ketika dia menyebutkan diri bahwa dia selalu menjaga dirinya dalam
kondisi ber wudhu seperti orang mau sholat ke mesjid. Gubrak...kacau bener dunia persilatan.

Di satu sisi saya salut dengan Mbak Ani karena berusaha mengamalkan amalan sunnah dg sungguh2. Namun di sisi yg lain, saya menemukan adanya sebuah sikap semacam frustasi dalam diri Mbak Ani dalam menghadapi kenyataan hidup yg keras ini.

Dia terpaksa melacurkan diri untuk bisa makan dan mengirimi uang untuk keluarganya di kampung halaman. Dia melakukan seperti ini karena terjebak oleh sebuah agen penyalur tenaga kerja. Innalillahi wainnailaihi raa ji'un.

Ternyata banyak sekali perdagangan wanita di negara kita ya. Indonesia yg sangat ramah dan
tenang ternyata menyimpan dunia kelam tersembunyi yg begitu mengerikan.

Malam pun terlalu larut...wawancara pun berakhir.
Saya ucapkan terima kasih kepada Mbak Ani.
Semoga Allah segera mengentaskan dirinya dari lembah hitam. Amin.

Fight for Life, Vote for Love, Just for Allah.

Diskusi di Hard Rock FM Surabaya



Rabu 2 Agt kemarin saya di sms temen lama, non-gay yang juga di surabaya tapi bukan member hijrah euy (HE). Ia meminta saya ndengerin HardRock FM, katanya ada acara yg menampilkan lesbian sbg narasumbernya. Ia juga meminta saya memberi masukan yang ‘mencerahkan’. Setengah mati saya jungkir balik nyari gelombangnya (maklum, kualitasnya kelas bawah) akhirnya ketemu juga. Acaranya berjudul Cozy, Sexy, Cool dengan tema ‘Yang penting kasih sayang, jenis kelamin belakangan.’

Ternyata itu acara benar2 ajang kampanye dan ‘penghargaan’ bagi kaum lesbian dan gay. Tidak hanya penyiar, namun juga para pendengarnya menyatakan ‘salut atas keberanian kalian tampil di acara ini’. Saya jadi bingung, mau memberi komentar apa? Mulai dari acara dan topiknya aja udah berseberangan, belum narasumbernya, pembawa acaranya (jangan2 tukang parkirnya juga).
Beberapa statement yang terekam dalam memory saya:
  1. Agama tidak memberi solusi
Kalau boleh saya menggarisbawahi, agama memang tidak memberi solusi yang diinginkan oleh kaum gay dan lesbian. Selamanya, agama tidak akan memberi jalan bebas hambatan bagi pelampiasan nafsu, yang ada hanyalah kanal resmi pernikahan saja, dengan seabreg syaratnya. Tampaknya ini tidak memuaskan mereka.
  1. Ini bukan masalah nafsu, tapi cinta.
Kalo cinta nonseksual tentu saya sepakat. Namun ini adalah romansa, cinta yang memiliki dimensi passion, dan passion amat erat dengan nafsu seksual. Dalam hal ini, cinta yang sebenarnya dipermasalahkan di sini bukanlah cinta sesama manusia, melainkan cinta bermuatan seksual sebagaimana lazimnya cinta antara suami-istri. Boleh saja sang narasumber mengklaim bahwa mereka bisa menahan diri dari hub. seksual selama 1 tahun, tapi ujung2nya ini ‘kan cinta romansa, dimana orientasi seksual menentukan kepada siapa ia jatuh cinta?
  1. Yang tahu kebenaran hanya Tuhan, kita tidak tahu apa-2
Salah satu ciri khas gerakan yang bersenjatakan dalil2 agama (insya Allah saya bahas di tulisan lain) adalah meninggakan pendengar dan pemirsanya dalam kebingungan. Gerakan2 tersebut, ketika disodori dalil yang menentang mereka, akan membalas dengan dalil yang seolah2 bertentangan atau fakta di lapangan yang jelas2 bertentangan dengan dalil tersebut. Misalnya, kalo dikatakan ‘Islam melarang pratik homoseksual’, maka tradisi mairilan dan pemelintiran tafsir kata ‘jenis’ dalam Ar-Ruum 21-lah yang dijadikan senjata. Efeknya bukan hanya mementahkan argumen si penyodor dalil, namun juga argumennya terhadap kebenaran agamanya. Para gay dari agama lain atau yang tidak beragama juga biasa menggunakan statement “Kenapa homoseksual dilarang, tapi poligami dibolehkan?”. Penjajaran isu (yang jelas2 tidak berhubungan) ini jelas tidak bersumber dari keprihatinan atas masalah ketimpangan dan bertujuan mencari solusi, melainkan lebih pada mengguncang kepercayaan si penyodor dalil.
  1. Kalau saya tertarik sesama jenis, berarti Tuhan menentukan saya jadi lesbian. Kalo suatu saat saya tertarik lawan jenis, berarti Tuhan menghendaki saya jadi straight.
Statement ini jelas merendahkan derajat manusia menjadi sebungkah batu, yang jika ditaruh di sebuah permukaan miring akan mengelinding ke bawah. Dulu, seorang hamba Allah swt (as) dibebaskan dari segala macam aturan kecuali satu saja: Jangan mendekati pohon itu. Apakah kita akan menyalahkan Allah swt karena menjadikan Adam as dan istrinya doyan buah2an? Potensi dalam diri keduanya (lalai terhadap aturan Allah swt, terbujuk rayuan Iblis, dan doyan buah2an) tidak serta-merta bisa ditafsirkan bahwa Allah swt menghendaki keduanya untuk melanggar larangan-Nya.
  1. Kaum gay dan lesbian perlu menunjukkan kpd msyarakat bahwa mereka bisa berprestasi seperti kaum hetero, bahkan lebih, agar bisa diterima
Tidak salah apabila orang mengejar tujuan ini, namun ini menyiratkan capaian tertinggi yang bisa dibayangkan oleh gerakan gay dan lesbian. Penerimaan masyarakat menempati posisi amat tinggi dalam tujuan gerakan; Tidak tepikirkan ada yang lebih penting, seperti mencapai ridha-Nya, misalnya.

Sebagai penutup, saya ingin menggarisbawahi satu hal saja. Jika prestasi gemilang, karir menanjak, kekayaan, kesuksesan, penampilan menarik, wawasan luas, penerimaan masyarakat, perjuangan atas nama cinta dan HAM dijadikan tolok ukur penghargaan, maka saya jadi bertanya2, apa yg layak didapatkan oleh org2 yg rela menanggung penderitaan demi menjauhi larangan-Nya? Apakah sudah garisnya kalo orang2 seperti ini dicemooh di dunia, sementara para pengumbar nafsu atas nama cinta disaluti?

Tulisan saudara Paraclytos-Surabaya
Diambil dari Mailing List Hijrah_Euy@yahoogroups.com

Hilangnya Ideolog2 Cinta


Tahun 2005 adalah tahun yg unik. Pada saat itu berkumpul lah beberapa para ideolog cinta untuk membahas bagaimana caranya untuk menyelamatkan cinta setiap insan agar tetap sesuai fitrah berdasarkan Qur'an dan sunnah.

Diskusi-diskusi kasus sering dilakukan di channel cafeislami DALnet. Di situ dari beberapa kota bahkan dari manca negara ikut bergabung menyuarakan aspirasinya. Subhanallah, bicara cinta memang ngga ada habisnya, hehehe.

Pada awalnya channel cafeislami sendiri merupakan tempat berkumpulnya beberapa pe-chatter cafeislam yang sering kena kick ban dari operator channel cafeislam. Akhirnya ada inisiatif dari salah seorang diantara mereka untuk membuat channel tandingan dengan nama cafeislami.

Dalam diskusi tersebut ada salah seorang yang nyeletuk untuk membuat apa yang dinamakan dengan LSM Badan Penyelamat Cinta (BPC). Sedangkan eksekutornya disebut Tim Penyelamat Cinta (TPC). Lucu ya ? :)

Ada yang dingin dalam menanggapinya, namun adapula yang sangat bersemangat.

Seiring berjalannya waktu, seiring kesibukan masing-masing Tim Penyelamat Cinta, seiring banyak yang sudah menikah...satu per satu anggota Tim Penyelamat Cinta mulai kurang aktif. Opini cinta nya mulai kendur, seperti daun di musim gugur.

Ya Allah...mudahkanlah kami dalam berjuang. Meski masih amatir, tapi yang penting aksinya. Meski masih kelihatan byar pet kaya lampu PLN tapi kami berusaha mendengungkan aksi2 penyelamatan cinta di seluruh dunia. Baik di dunia maya maupun nyata.

Bismillah...kita bisa ! Hidup cinta yang suci...Hidup proses cinta yang dijalani bukan dengan nafsu hewani...Hidup cinta yang berjalan berdasarkan perintah Ilahi...!!!

Fight for Life...Vote for Love...Just for Allah !!!

Jangan-jangan kita juga ingkar sunnah ???


Loh kok bisa begitu ???

Kadang mungkin kita sering bergumam dalam hati...mengapa saya selalu gagal ? mengapa saya tidak bisa melakukan segala sesuatu seperti yg orang lain lakukan ? mengapa aku begini-begini saja, tak ada perubahan sama sekali, padahal aku sudah berusaha mati-matian untuk bisa berubah ke arah yang lebih baik ? dsb...


Pertanyaan-pertanyaan tadi bisa juga merupakan introspeksi diri dalam rangka memicu semangat untuk mencapai tujuan yang kita inginkan.Namun apabila pertanyaan tadi dimaksudkan dalam rangka mengeluh, justru inilah yang akan menjadi bumerang bagi kita.

Kita tidak sadar bahwa segala sesuatu itu perlu proses.


Dulu pada saat kita masih bayi tentu tidak mungkin serta merta kita bisa berjalan sendiri dengan gagah seperti sekarang. Kita melewati fase jatuh bangun, masuk ke got,tergelincir, babak belur, bahkan sampai kepala bocor ditambal handyplast karena tertimpa perabot rumah agar bisa berjalan seperti sekarang. Kalau tidak percaya coba kita gundul rambut, pasti banyak pitaknya, hehehe.


Proses memang tidak selamanya berujung indah.Sering kita mengalami kegagalan dalam berproses. Boleh-boleh saja kita berkata dalam diri bahwa usaha kita sudah mentok. Namun syaratnya...jangan sampai ada bibit-bibit keluhan dalam intonasi ucapan kita.Bila ternyata kita banyak mengeluh, bisa jadi kitamulai ingkar terhadap sunnah Allah (sesuai fitrah/alamiah/takdir). 


Allah memberi pahala lebih besar bagi orang yg baru belajar membaca Al Qur'an daripada yang sudah bisa membacanya dengan tartil.


Proses perubahan yang harus menghadapi banyak tantangan, tentunya akan diberi insentif lebih baik daripada yang tantangannya sedikit.

Batu intan tak akan bernilai tinggi bila tetap berada di dasar sungai. Dia harus diasah dengan telaten dan dibentuk sehingga berharga tinggi.

Sampah pun bisa bermanfaat ketika didaur ulang menjadi beraneka ragam barang yang menarik dan berharga mahal.

Tak ada yang tidak bernilai di dunia ini. Semua pasti punya nilai. Bahkan seekor nyamuk pun punya nilai apalagi kita, manusia.

Jadi, cepat-cepat perbaiki diri...sabar dalam prosesnya...nikmati perjalanannya dan tawakal terhadap hasilnya. Sepakat ???


Bismillah kita bisa ! Allahuakbar !!!

Jangan Bunuh Diri


Bro and ses...
Banyak sekali crita di sekitar kita orang gantung diri, bakar diri (sati), atau nyebur dirike sumur. Pokoknya bunuh diri gitu deh.

Bagimana pendapat ente-ente pade ama kasus bunuh diri ??? Mungkin sebagian besar dari kita akan ngatain...wah pengecut tuh, lari dari masalah, gak takut dosa, atau apalah sebutannya.

Bro and ses... tau gak ??? (gak, hehehe).
Ternyata bunuh diri tuh gak cuma bunuh jasad/fisik kita aja loh. Kok bisa mas ? Ya bisa toh !Tubuh kita ternyata gak cuman terdiri dari jasad aja.Ada unsur lain lagi dalam diri kita selain jasad.

Apaan tuh ???

Bro and ses di seluruh dunia...semuanya pasti tau kalo kita tuh punya hati dan akal. Nah itu dia...Trus apa hubungannya????

Ya jelas nyambung kalo disambung2in. Ini gak cuma disambung2in ding, tapi emang bener2 nyambung. Weleh,ngomong apa to mas ??? Sok filosofis lu !

Bro and ses...kebanyakan dari kita cuma tau bunuh diri ya bunuh fisik kita di tiang gantungan, nyebur kali, sumur atau got...hehehe, emang ada ?

Padahal bro and ses...Mungkin kita gak sadar kalo kita telah banyak membunuh hati dan akal kita. Emang sih efeknya kita gak sampe mati secara fisik, tapi ya deritanya itu loh...

Ada acara...eh cerita... dulu pada jaman Rasulullah masi idup ada seorang sahabat yg berjuang mati2an di medan pertempuran melawan pasukan kafir. Istilahnya jihad gitu.

Trus sahabat tadi kena senjata musuh, trus dia jatuh terkapar. Nah ditengah2 lagi mau mati(sakaratul maut) dia gak tahan dengan derita sakitnya sakaratul maut, lalu dia menebas dirinya sendiri dengan pedang.


Kejadian ini ga diketahuin sahabat yg lain, taunya dia mati syahid.
Lalu jenazahnya di hadapkan kepada Rasulullah SAW. Allah memberi tau kepada Rasul bahwa dia gak syahid, tapi bunuh diri. dan tempatnya adalah di neraka jahanam selamanya. Glek ! Takuutt...

Dari cerita di atas...apa yg bisa kita ambil pelajaran ? (Ya apa dong mas?)

Bro and ses...Kali aja kita sering gak tahan sama idup kita yg nelangsa, di tinggal orang yg kita cintain, diremehin, diboongin, gak punya duit atau apalah yg gak enak2 lainnya.Ketika gak tahan dengan deritanya , mungkin sering kita malah lari ke mabok2an, narkoba, ke lokalisasi, rokok, dan segala yg makin menjauhkan diri kita (jasad, hati, akal) dari kebutuhannya.
Jadinya ya kita juga sedang melakukan bunuh diri. Bukan bunuh diri secara fisik, tapi ngebunuh hati dan akal kita.

Jasad kan butuh makan, hati butuh ibadah, akal butuh ilmu. Harusnya kita larinya ke hal2 yg kita butuhkan itu. Bukannya malah "bunuh diri" !

Ketiga hal di atas kudu kita penuhin kebutuhannya. Kalo gak ya akan timpang. Bisa kaya pejabat2 kita yg suka korupsi, orang cantik tapi gila, atau malah seperti cewek cantik tapi suka ngebunuh anaknya...hiii serem.

Bro and ses...Kita kudu inget ama Jasad, Hati en Akal.
Bukankah kita sangat cinta ama diri kita ?
So, Jangan bunuh diri !!!

Hidup Kita Harus Diisi Dengan Cinta


Beberapa orang mengeluh...mama ku gak pernah di rumah. papa ku sibuk kerja di luar kota...kakak2 ku pergi terus entah kemana...

Kalo dulu pas jaman2nya musik rap jaya pd pertengahan tahun 90-an ada lagu yg judulnya
"bosan", yg nyanyi gw lupa sapa. Liriknya begini :

"Bosan dirumah lagi sendirian, papa sibuk, mama arisan...tiada lagi yg bisa jadi perhatian...semuanya, bikin gw belingsatan !"

Keluarga adalah pendidikan pertama dalam kehidupan kita. Sebelum kita blajar nulis di TK, ortu kita uda ngajarin kita macem2. Latihan bediri, latihan naik sepeda roda tiga, latihan makan, latihan nangis yg beradab, dan latihan etika.

Segala puji bagi Allah yg telah memberikan kita ortu yg masih dapat kita lihat dan rasakan kasih
sayangnya.

Ada sodara kita yg baru lahir langsung dibuang di tempat sampah atau diceburin ke kali hingga
akhirnya ada yg selamat ber-ortu-kan pemulung sampah.

Keluhan2 di atas sangat wajar. Rasa sepi dan ditinggal keluarga merupakan "bencana" tersendiri
yg mebuat mental kita drop abis2an. Meski mereka menyuplai kebutuhan materi kita, men-sekolahkan kita, dsb tapi pada dasarnya kita sangat membutuhkan perhatian. CINTA.

Uang, materi, rumah, mobil, motor bukan hal mutlak yg ada dalam kehidupan kita. Yg kita butuhkan hanyalah cinta. Cinta yg saling mendukung, menguatkan diantara anggota keluarga, dsb.

Ada kisah menarik dari kehidupan nabi kita yg mulia, Muhammad SAW.
Beliau sudah yatim sejak dilahirkan karena pd waktu ibunya mengandung 3 bulan, bapak Rasulullah yg bernama Abdullah itu wafat.
Saat Muhammad kecil berusia 6 tahun, ibundanya yg bernama siti Aminah pun ikut menyusul suaminya. Wafat.
Walaupun Rasulullah telah ditinggal mama papa nya saat Beliau kecil, tapi Beliau berusaha eksis
dengan kondisi yg ada. Subhanallah...

Mungkin saja Rasulullah tidak merasa adanya "kekurangan" cinta, kurang kasih sayang, karena
setelah mama-nya meninggal, Beliau diasuh oleh kakeknya. Abdul Muthalib. Dan setelah itu Beliau diasuh oleh pamannya. Abu Thalib. Lalu Beliau menikah dg Siti Khadijah al Kubro.

Hmm...bole saja kita menyangkal dg alasan tadi, tapi yg jelas...hidup itu tantangan. Bagi temen2
yg merasa "kekurangan" cinta dari keluarga...bersabarlah sodaraku...

Pada hakikatnya hidup itu ujian...sapa yg lulus, dialah yg menang. Bagi yg menang...dialah yg dapat surga dan dapat bertemu langsung dg Allah SWT dengan gembira.

Semoga Allah menguatkan hati, jiwa dan raga kita.

Mari kita isi hidup kita dengan cinta. Cukup kita saja yg merasakan kekurangannya. Karena memberikan sesuatu juga bisa menimbulkan cinta.
Ya...berikan sesuatu untuk agama dan umat.

Selamat bercinta

Normal Itu Indah


Bismillah...

Saudaraku yg dirahmati Allah SWT...Allah memberi kita berbagai nikmat yg tiada tara. Mulai dari nikmat kehidupan, pendidikan, panca indera, makanan, dsb.
Allah menganugerahkan kepada kita semuanya itu dengan gratis. Allah tak minta macam-macam dari kita selain kita harus taat padaNya dan tidak menyekutukan Dia dg apapun.


Cuman itu hak Allah yg harus kita lakukan.
Ketika kita tidak taat padaNya pun Allah tidak menuntut kita. Jadi semuanya terserah kita mau bagaimana menjalani hidup di dunia ini. Yg jelas Allah sudah menurunkan pegangan untuk kita taati. Al Quran dan sunnah.

Allah memang Maha Adil...semua manusia mendapatkan cobaan agar kita kuat dalam menjalani kehidupan.
Kita pasti akan diuji untuk mengetahui sejauh mana keimanan kita kepada Allah SWT.

Ada satu ujian yg mungkin membuat kita terasa kurang nyaman dan gusar. Salah satunya adalah diuji dengan ketertarikan terhadap sesama jenis (SSA).

Saudaraku yg dirahmati Allah...betapa cintanya Allah kepada kita. Dia memberi kita ujian yg mungkin sukar untuk kita nalar dan kita pun kadang jadi sering mengeluh...kok saya begini ?

Ketertarikan terhadap sesama jenis juga merupakan suatu ujian. Kita harus pasrah terhadap kehendak Allah namun kita juga harus kuat dalam menghadapi ujian tersebut.
Allah hanya menghendaki kita agar kita menyalurkan kepentingan syahwat kita hanya seperti yg telah dituturkan oleh Rasulullah SAW. Kita tak mungkin menikah dengan sesama jenis, karena itu adalah perbuatan yg sangat Allah murkai.

Layaknya kaum nabi Luth...mungkin itulah gambaran ujian yg menimpa pada diri kita.
Allah tak akan menurunkan suatu ujian yg kita sendiri tak akan mampu untuk memikulnya. Kita harus yakini itu wahai saudaraku...Bahkan dalam surat Al Ashr, Allah mengulang 2 kali kalimat...Sesungguhnya, sesudah kesukaran pasti ada kemudahan !

Nafsu yg menggebu...menuntut kita untuk menyalurkannya pd sesuatu yg halal, yg Allah ridhoi.
Mari saatnya kita kuatkan tekad...bahwa menikah dengan lawan jenis itu adalah solusi yg terbaik.


Pertama mungkin akan terasa hambar dan aneh...tapi insya Allah...Dia akan menurunkan kepada kita ketenangan...ketentraman...dan kebahagiaan yg sesungguhnya.

Normal itu indah... Bismillah...kita bisa ! Allahuakbar !

Tempat mangkal Gay dan Biseksual


Berikut ini adalah hasil investigasi tim Penyelamat Cinta tentang tempat mangkal kaum gay dan biseksual di Jakarta. Informasi ini menggambarkan begitu banyaknya komunitas seperti ini sekarang. Mari kita kembali kepada Allah...tegakkan amar ma'ruf nahi munkar ! Allahuakbar !

1. Lap. Banteng (BT), campur, malam, komersial.
2. Tugu/Gelanggang Senen, campur, malam, komersial.
3. Bioskop Grand Duta/Mulya Agung (Grand/MA), persimpangan Jln Kramat Raya-Kwitang, campur, siang & malam.
4. Terminal Bus Senen (kamar mandi 'Si Unyil'), campur, komersial.
5. Dangdut Senen. sebelah gelanggang Senen/seberang terminal bus, campur, komersial.
6. Cililitan (Cili-terminal lama), di sekitar terminal lama, campur, malam Minggu. Jangan datang selain malam Minggu. Bahaya!!!
7. Gedung Bioskop Cinere, di lobi, mayoritas brondong, malam.
8. Ciputat-Gedung bioskop Sahara, di pelataran, mayoritas brondong, malam.
9. Kolam renang Ancol (di bawah 'Air Terjun'). Minggu sore.
10. Sogo. Plaza Indonesia. Hotel Grand Hyatt, bundaran HI, mayoritas brondong, siang & malam.
11. Pasaraya Big & Beautiful Blok M, toilet lantai dasar/pintu masuk parkir, campur, siang & malam.
12. Blok M Plasa/Terminal Kebayoran Baru, mayoritas brondong, siang & malam.
13. Atrium/Segitiga Senen,. depan Studio 21, mayoritas brondong, siang & malam.
14. Metro Kafe, Puri Indah Mal Lt.1, 10.00-21.00 WIB.
15. Kebanyakan Disko di Jakarta adalah tempat mangkal gay.
16. Tanamur (disko), Jln Tanah Abang,Kamis malam banyak gay, Minggu malam lines, campur, komersial.
17. The New Moonlight (ML), persimpangan Hayam Wuruk-Mangga Besar, Rabu malam & Sabtu malam Minggu, gay & lines.
18. Kasturi Diskotik, Jln Mangga Besar Raya 10 E, Senen malam Selasa, Gay Night, 22.00 WIB-selesai.
19. Furama Pub & Diskotik, Jln Hayam Wuruk Raya 75 (sebelah Holland Bakery), Selasa malam Rabu, Gay Night, 22.00 WIB-selesai. top

Informasi ini didapatkan dari sumber terpercaya dengan inisial D.
Mari kita galang kekuatan...Kuatkan tekad...kembalikan sodara2 kita kepada Allah SWT !!!

Wassalam

Aksi Sejuta Massa Dukung RUU APP di Jakarta


Ahad, 21 Mei 2006 adalah hari yang menjadi saksi kesolidan puluhan ormas, parpol dan lembaga Islam dalam mengawal RUU APP agar segera disyahkan oleh DPR. Dalam kesempatan tersebut hadir 1,5 juta massa yang mendukung adanya RUU APP.

Massa melakukan long march dari Bundaran HI menuju gedung DPR MPR RI di Senayan.
Subhanallah...di tengah-tengah maraknya kemaksiatan di negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia ini ternyata masih ada yang perduli terhadap kelangsungan perbaikan akhlak (moral) bangsa.


Semoga aksi damai ini dicatat oleh Allah SWT sebagai amal ibadah yang mendapatkan pahala surga.


Tetap bergerak wahai saudaraku !!! Jangan pernah mati karena keterbatasan !
Bismillah...semoga dimudahkan Allah.